Senin, 13 Juni 2011

asuhan keperawatan pada klien dengan koriokarsinoma

Definisi Koriokarsinoma
Koriokarsinoma adalah salah satu jenis dari Penyakit Trofoblastik Gestasional (PTG) dimana merupakan suatu tumor ganas yang berasal dari sel-sel sito- trofoblas serta sinsitiotrofloblas ( pembentuk plasenta ) yang menginvasi miometrium, merusak jaringan di sekitarnya termasuk pembuluh darah sehingga menyebabkan perdarahan ( Berek, 1996 ).
Koriokarsinoma ialah suatu keganasan, berasal dari jaringan trofoblas dan kanker yang bersifat agresif, biasanya dari plasenta. Hal ini ditandai dengan metastase perdarahan yang cepat ke paru-paru (Wikipedia, 2009).



Gambar 2. Letak koriokarsinoma dalam uterus.

Korio karsinoma adalah tumor ganas yang berasal dari jaringan yang mengandung trofoblas, seperti: lapisan trofoblas ovum yang sedang tumbuh, vili dari plasenta, gelembung mola, dan emboli sel-sel trofoblas dimanapun di dalam tubuh (Dito,2008).
“Korio” adalah istilah yang diambil dari vili korionik yaitu salah satu jenis selaput pada rahim manusia. Istilah “Karsinoma” merupakan kanker yang berasal dari sel-sel epithelial. Karena kanker ini merupakan kanker yang berasal dari salah satu plasenta yaitu korion maka salah satu ciri khusus dari kanker ini adalah menghasilkan hormon hCG (Human Chorionic Gonadothropin) yang sangat tinggi bahkan melebihi kadar hCG pada wanita hamil. Koriokarsinoma bisa menyerang semua wanita yang pernah hamil termasuk wanita yang pernah mengalami mola hidatidosa. Tidak seperti mola hidatidosa, korikarsinoma bisa menyerang banyak organ dalam tubuh, seperti hati, limpa, paru-paru, tulang belakang, otak juga dinding rahim.

2.2 Etiologi Koriokarsinoma

Etiologi terjadinya koriokarsinoma belum jelas diketahui. Trofoblas normal cenderung menjadi invasive dan erosi pembuluh darah berlebih-lebihan. Metastase sering terjadi lebih dini dan biasanya sering melalui pembuluh darah jarang melalui getah bening. Tempat metastase yang paling sering adalah paru- paru ﴾75%﴿ dan kemudian vagina ﴾50%﴿. Pada beberapa kasus metastase dapat terjadi pada vulva, ovarium, hepar, ginjal, dan otak ﴾Cunningham, 1990﴿.
Wikipedia, 2009 menyebutkan bahwa koriokarsinoma selama kehamilan bisa didahului oleh:

• Mola hidatidosa ( 50% kasus )

• Aborsi spontan ( 20% kasus )

• Kehamilan ektopik ( 2% kasus )

• Kehamilan normal ( 20-30% kasus )
Faktor-faktor yang menyebabkan antara lain:
1. Faktor ovum
Ovum memang sudah patologik sehingga mati, tetapi terlambat dikeluarkan.
2. Immunoselektif dari trofoblast
Yaitu dengan kematian fetus, pembuluh darah pada stroma villi menjadi jarang dan
stroma villi menjadi sembab dan akhirnya terjadi hyperplasia sel- sel trofoblast.
3. Keadaan sosial ekonomi yang rendah
Keadaan sosial ekonomi akan berpengaruh terhadap pemenuhan gizi ibu yang pada
akhirnya akan mempengaruhi pembentukan ovum abnormal yang mengarah pada
terbentuknya mola hidatidosa.
4. Paritas tinggi
Ibu dengan paritas tinggi, memiliki kemungkinan terjadinya abnormalitas pada kehamilan berikutnya, sehingga ada kemungkinan kehamilan berkembang menjadi mola hidatidosa dan berikutnya menjadi koriokarsinoma.
5. Kekurangan protein
Sesuai dengan fungsi protein untuk pembentukan jaringan atau fetus sehingga apabila terjadi kekurangan protein saat hamil menyebabkan gangguan pembentukan fetus secara sempurna yang menimbulkan jonjot-jonjot korion
6. Infeksi virus dan faktor kromosom

2.3 Klasifikasi Koriokarsinoma
Klasifikasi klinik penyakit trofoblas ganas ( PTG )
1. PTG non metastasis
2. PTG bermetastasis
a.Prognosis baik

• hCG < 100.000 IU/urin 24 jam atau < 40.000 IU/ml serum • Simptom <4 bulan • • Tidak ada metastasis di otak, liver • • Belum pernah dapat kemoterapi • • Bukan berasal dari kehamilna aterm b. Prognosis buruk • • hCG > 100.000 IU/ urin 24 jam atau > 40.000

• simptom > 4 bulan

• metastasis di otak, liver

• gagal dengan khemoterapi sebelumnya

• Didahului kehamilan aterm

Koriokarsinoma dapat diklasifikasikan menjadi tiga macam bentuk, yaitu:
a.) Koriokarsinoma Villosum Penyakit ini termasuk ganas tetapi derajat keganasannya lebih rendah. Sifatnya seperti mola, tetapi dengan daya penetrasi yang lebih besar. Sel- sel trofoblas dengan villi korialis akan menyusup ke dalam miometrium kemudian tidak jarang mengadakan perforasi pada dinding uterus dan menyebabkan perdarahan intra abdominal. Walaupun secara lokal mempunyai daya invasi yang berlebihan, tetapi penyakit ini jarang disertai metastasis. Invasive mola berasal dari mola hidatidosa.
b.) Koriokarsinoma Non Villosum Penyakit ini merupakan yang terganas dari penyakit trofoblas. Sebagian besar didahului oleh mola hidatidosa (83,3%) tetapi dapat pula didahului abortus atau persalinan biasa masing-masing 7,6%. Tumbuhnya sangat cepat dan sering menyebabkan metastasis ke organ-organ lain, seperti paru-paru, vulva, vagina, hepar dan otak. Apabila tidak diobati biasanya pasien meninggal dalam 1 tahun.
Apabila dibandingkan dengan jenis kanker ginekologik lainnya, koriokarsinoma mempunyai sifat yang berbeda, misalnya:
• Koriokarsinoma mempunyai periode laten yang dapat diukur, yaitu jarak
waktu antara akhir kehamilan dan terjadinya keganasan.
• Sering menyerang wanita muda
• Dapat sembuh secara tuntas tanpa kehilangan fungsi reproduksi, dengan
pengobatan sitostatika
• Dapat sembuh tanpa pengobatan melalui proses regresi spontan.
c.) Koriokarsinoma Klinis
Apabila setelah pengeluaran jaringan mola hidatidosa kadar hCG turun lambat apalagi menetap atau meningkat, maka kasus ini dianggap sebagai penyakit trofoblas ganas. Artinya ada sel-sel trofoblas yang aktif tumbuh lagi di uterus atau di tempat lain (metastasis) dan mengahasilkan hCG. Diagnosis keganasan tidak ditentukan oleh pemeriksaan histopatologik tetapi oleh tingginya kadar hCG dan adanya metastasis.

2.4 Stadium Koriokarsinoma
Berdasarkan jauhnya penyebaran koriokarsinoma dibagi menjadi 4, yaitu:
•Stadium I yang terbatas pada uterus
•Stadium II, sudah mengalami metastasis ke parametrium, serviks dan vagina
•Satadium III, mengalami metastasis ke paru-paru
•Stadium IV, metastasis ke oragan lain, seperti usus, hepar atau otak.
Ada beberapa sistem yang digunakan untuk mengkategorikan penyakit trofoblas ganas. Semua sistem mengkorelasikan antar gejala klinik pasien dan risiko kegagalan pada kemoterapi. Sistem Skoring FIGO tahun 2000 merupakan modifikasi sistem skoring WHO. Tabel II : Skoring faktor risiko menurut FIGO (WHO) dengan staging FIGO


Skor faktor resiko menurut FIGO (WHO) dg staging 0 1 2 4
Usia <40 >40 - -
Kehamilan sebelumnya mola abortus aterm -
Interval dg kehamilan tersebut (bulan) <4 4-6 7-12 >12
Kadar hCG asebelum terapi (miu/ml) <103 1000-10000 >10000-100000 >100000
Ukuran tumor terbesar termasuk uterus - 3-4 >5 cm -
Lokasi metastasis termasuk uterus Paru-paru Limpa, ginjal Traktus gastrointestinal Otak, hepar
Jumlah metastasis yg diidentifikasi - 14 5-8 >8
Kegagalan kemoterapi sebelumnya - - Agen tunggal Agen multipel


2.5 Tanda dan Gejala Koriokarsinoma
Karena koriokarsinoma merupakan penyakit yang bisa menyerang banyak bagian
tubuh manusia, maka klien pun akan merasakan banyak tanda dan gejala, antara
lain:
a. Peningkatan jumlah kadar ß-hCG
• Kadar ß-hCG normal pada tiap umur kehamilan berbeda, dari 5-25 IU/ml.
• Kadar ß-hCG yang dianggap mola < 100.000 IU/urine 24jam • Kadar ß-hCG yang dianggap kanker adalah > 100.000 IU/urine 24jam >40.000 u/ml dalam interval lebih dari 4 bulan.
b. Perdarahan per vaginam
c. Batuk berdarah dan sesak nafas
d. X-ray dada menunjukkan adanya perembesan cairan di ujung kedua paru- paru
e. Sakit kepala dan hemiplegi
f. Sakit tulang belakang
g. Perut bengkak dan sklera menjadi kuning
h. Hilang selera makan dan berat badan turun




gambar 3. X-ray dada menunjukkan adanya perembesan
cairan di ujung kedua paru-paru.

2.6 Manifestasi klinis
• Gejala Klinis :
1. Rahim membesar
2. Perdarahan dan syok
3. Ekspulsi gelembung mola
4. Anemis dan gejala sekunder.
• Anamnesa/ keluhan
1.Terdapat gejala-gejala hamil muda yang kadang-kadang lebih parah dari
kehamilan biasa, seperti:
2.Kadang ada tanda toksemia gravidarum
3.Terdapat perdarahan yang sedikit atau banyak, tidak teratur, bewarna tengguli tua
atau kecoklatan
4.Pembesaran uterus tidak sesuai dengan tuanya kehamilan seharusnya (lebih besar)
5.Keluarnya jaringan mola seperti buah anggur atau mata ikan (tidak selalu ada)
yang merupakan diagnosa pasti
• Pemeriksaan dalam
Terdapat pembesaran rahim, rahim terasa lembek, tidak ada bagian-bagian janin, terdapat perdarahan dan jaringan dalam kanalis servikalis dan cavum vagina, serta evaluasi keadaan serviks.
a. Inspeksi
1.Muka dan kadang-kadang badan terlihat pucat kekuning- kuningan yang disebut
muka mola (mola face)
2. Kalau gelembung mola keluar dapat dilihat dengan jelas
b.Palpasi
1.Uterus lebih besar/membesar tidak sesuai dengan tuanya kehamilan, teraba lembek
2. Tidak teraba bagian-bagian janin dan ballottement juga gerakan janin.
3. Adanya fenomena harmonica: darah dan gelembung mola keluar dan fundus uteri
turun, lalu naik lagi karena terkumpulnya darah baru
c. Auskultasi
1.Tidak terdengar bunyi DJJ
2.Terdengan bising dan bunyi khas
• Reaksi kehamilan
Karena kadar HCG yang tinggi maka uji biologic dan uji imunologik ( galli mainini dan planotest) akan positif setelah pengenceran (titrasi)
a. galli mainini 1/3000 (+) maka suspect mola hidatidosa atau koriokarsinoma
b. galli mainini 1/2000 (+) maka kemungkinan mola atau hamil kembar

2.7 Patofisiologis
Bentuk tumor trofoblas yang sangat ganas ini dapat dianggap sebagai suatu karsinoma dari epitel korion, walaupun perilaku pertumbuhan dan metastasisnya mirip dengan sarkoma. Faktor-faktor yang berperan dalam transformasi keganasan korion tidak diketahui. Pada koriokarsinoma, kecenderungan trofoblas normal untuk tumbuh secara invasif dan menyebabkan erosi pembuluh darah sangatlah besar. Apabila mengenai endometrium, akan terjadi perdarahan, kerontokan dan infeksi permukaan. Masa jaringan yang terbenam di miometrium dapat meluas keluar , muncul di uterus sebagai nodul-nodul gelap irreguler yang akhirnya menembus peritoneum.
Gambaran diagnostik yang penting pada koriokarsinoma, berbeda dengan mola hidatidosa atau mola invasif adalah tidak adanya pola vilus.
Baik unsur sitotrofoblas maupun sinsitium terlibat, walaupun salah satunya mungkin predominan. Dijumpai anplasia sel, sering mencolok, tetapi kurang bermanfaat sebagai kriteria diagnostik pada keganasan trofoblas dibandingkan dengan pada tumor lain. Pada pemeriksaan hasil kuretase uterus, kesulitan evaluasi sitologis adalah salah satu faktor penyebab kesalahan diagnosis koriokarsinoma. Sel-sel trofoblas normal di tempat plasenta secara salah di diagnosis sebagai koriokarsinoma. Metastasis sering berlangsung dini dan umumnya hematogen karena afinitas trofoblas terhadap pembuluh darah.
Koriokarsinoma dapat terjadi setelah mola hidatidosa, abortus, kehamilan ektopik atau kehamilan normal . tanda tersering, walaupun tidak selalu ada, adalah perdarahan irreguler setelah masa nifas dini disertai subinvolusi uterus. Perdarahan dapat kontinyu atau intermitten, dengan perdarahan mendadak dan
kadang-kadang masif. Perforasi uterus akibat pertumbuhan tumor dapat menyebabkan perdarahan intraperitonium. Pada banyak kasus, tanda pertama mungkin adalah lesi metatatik. Mungkin ditemukan tumor vagina atau vulva. Wanita yang bersangkutan mungkin mengeluh batuk dan sputum berdarah akibat metastasis di paru.
Pada beberapa kasus, di uterus atau pelvis tidak mungkin dijumpai koriokarsinoma karena lesi aslinya telah lenyap, dan yang tersisa hanya metastasis jauh yang tumbuh aktif. Apabila tidak di terapi, koriokarsinoma akan berkembang cepat dan pada mayoritas kasus pasien biasanya akan meninggal dalam beberapa bulan. Kausa kematian tersering adalah perdarahan di berbagai lokasi. Pasien di golongkan beresiko tinggi jiika penyakit lebih dari 4 bulan, kadar gonadotropin serum lebih dari 40.000 mIU/ml, metastasis ke otak atau hati, tumor timbul setelah kehamilan aterm, atau riwayat kegagalan kemoterapi, namun menghasil kananagka kesembuhan tertinggi dengan kemoterapi kombinasi yaitu menggunakan etoposid, metotreksat, aktinomisin, siklofosfamid, dan vinkristin (Schorage et al, 2000).

2.8 Pemeriksaan Laboratorium dan Penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium
Menurut The International Federation of Gynecology and Oncology (FIGO) menetapkan beberapa kriteria yang dapat digunakan untuk mendiagnosis PTG termasuk koriokarsinoma adalah:
1. Menetapnya kadar ß hCG pada empat kali penilaian dalam 3 minggu atau lebih
(misalnya hari 1,7, 14 dan 21)
2. Kadar ß hGC meningkat pada selama tiga minggu berturut-turut atau lebih
(misalnya hari 1,7 dan 14)
3. Tetap terdeteksinya ß hCG sampai 6 bulan pasca evakuasi mola.
4. Gambaran patologi anatomi adalah koriokarsinoma
b. Pemeriksaan Penunjang
1. Uji Sonde
Sonde (penduga rahim) dimasukkan pelan-pelan dan hati-hati ke dalam kanalis servikalis dan kavum uteri. Bila tidak ada tahanan sonde diputar setelah ditarik sedikit, bila tetap tidak ada tahanan, kemungkinan mola atau koriokarsinoma.
2. Foto rontgen abdomen
Tidak terlihat tulang-tulang janin (pada kehamilan 3-4 bulan)
3. Ultrasonografi
Khusus pada mola akan kelihatan bayangan badai salju dan tidak terlihat janin (merupakan diagnosa pasti), waspadai juga koriokarsinoma.
• Data Klinik Pemeriksaan Diagnostik
1. Perdarahan dalam separo pertama kehamilan
2. Nyeri perut bagian bawah
3. Toksemia sebelum 24 minggu kehamilan
4. Hiperemesis gravidarum
5. Rahim terlalu besar untuk tanggalnya
6. Tanda tonus jantung janin dan bagian janin
7. Keluarnya vesikel - ultrasonografi
8. Foto rontgen
(Hacker/Moore, essensial obstetric dan ginekologi, 2001: 683)

WOC
Penatalaksanaan
Untuk penatalaksanaan terapi korikarsinoma bisa dilakukan dengan:
a. Kemoterapi
Koriokarsinoma merupakan tumor yang sensitif terhadap obat-obatan
kemoterapi, dari hasil survey menunjukkan bahwa dengan kemoterapi
pasien dengan koriokarsinoma mengalami kesembuhan 90-95%.
• Terapi dengan agen single methotrexate or actinomycin D
Terapi ini digunakan untuk koriokarsinoma yang belum bermetastase meluas ke seluruh tubuh atau dengan skala ringan.
•Terapi kombinasi EMACO (etoposide, methotrexate, actinomycin D, cyclosphosphamide and oncovin) Terapi komplek ini digunakan untuk koriokarsinoma dengan skala
sedang atau berat.
b. Hysterektomi
Biasa dilakukan pada wanita dengan usia ≥ 40 tahun atau pada wanita yang memang menginginkan untuk dilakukan hysterektomi. Hysterektomi juga disarankan pada infeksi berat dan perdarahan yang tidak terkendali.


KASUS
Ny.K seorang ibu rumah tangga berusia 36 tahun mempunyai 3 orang anak yang termuda berusia 2 bulan. Dalam 4 bulan terakhir klien merasa mual-mual berlebihan, hilang selera makan, sedikit nyeri di daerah perianal dan sering terjadi perdarahan berlebihan di vagina. Klien tampak pucat, setelah dilakukan pemeriksaan uterus mengalami pembesaran, lembek, dan terdapat massa sebesar 5 cm di dinding posterior dari vagina dekat pintu keluar. Klien pernah terdiagnosa mola hidatidosa pada tahun pertama setelah kelahiran anak kedua.hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan ada peningkatan kadar ß-hCG dalam darah. Setelah dilakukan 4 kali pemeriksaan dalam 3 minggu kadar ß-hCG menunjukkan angka > 100.000 IU/urin dalam 24jam. Dokter mendiagnosa Ny.K menderita koriokarsinoma. Sekarang merupakan hari ke 8 pasien dirawat dan telah mengalami 2 kali kemoterapi.
3.1 Asuhan Keperawatan
I. Pengkajian
1. Identitas
Nama : Ny K
Umur : 36 tahun
Alamat : Surabaya
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
2. Keadaan Umum : Lemah
3. Keluhan Utama : Pasien mengalami perdarahan berlebihan di vagina dan sering
mual berlebihan.
4. Riwayat penyakit sekarang : Dalam 4 bulan terakhir klien merasa mual-mual
berlebihan, hilang selera makan dan sering terjadi perdarahn berlebihan di vagina.
5. Riwayat obstetri dan menstruasi:
Selama 4 bulan terakhir mengalami menorraghi dan perdarahan yang
berlebihan pada vagina.
6. Riwayat Penyakit Dulu:
Klien pernah mengalami mola hidatidosa pada tahun pertama setelah
kelahiran anak kedua.
7. Riwayat Alergi : Klien menyatakan tidak mempunyai alergi.
8. Riwayat Penyakit Keluarga:
Tidak ada keluarga yang pernah sakit seperti ini.
9. Keadaan Umum :
TD : 100/70 mmHg N : 105x/menit RR : 20x/menit T : 36,5 º C
B1 ( Breathing )
Sesak : tidak ada
Batuk : tidak ada
Suara nafas : vesikuler
Suara nafas tambahan : tidak ada
Retraksi dada : tidak ada
Klien bernafas spontan
MK : tidak terdapat masalah keperawatan

B2 ( Blood )
S1,S2 : tunggal
Nyeri dada : tidak ada
Gallop : tidak ada
Mumur : tidak ada
Suara jantung : normal
CRT : < 3 detik MK : tidak terdapat masalah keperawatan B3 ( Brain ) GCS : Eye : 4, Verbal : 5, Motorik : 6 Reflek Patologis : tidak ada Mual : + Pupil : Isokor MK : tidak terdapat masalah keperawatan B4 ( Blader ) BAK : normal, tidak terdapt oliguri, poliguria Warna Urine : Kuning Jernih Bau : khas MK : tidak terdapat masalah keperawtan B5 ( Bowel ) Frekuensi Makan : 2x/hari porsi 1/2 piring Minum : air putih Intake Cairan : 1 liter/hari Lain-lain : Pasien mengaku nyeri di daerah perianal MK : - Nyeri akut - Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh B6 ( Bone ) Tidak terdapat patah tulang MK :tidak terdapat masalah keperawatan Psikososial : Pasien mengaku takut dengan apa yang dialami sekarang membahayakan jiwanya dan malu apabila bertemu dengan orang lain karena dianggap penyakit yang aneh. Psikoseksual : pasien mengalami ketakutan apabila dia tidak bisa lagi melayani suaminya dengan semaksimal mungkin karena takut terjadi hal-hal yang lebih parah, misalnya perdarahan per vaginam yang meningkat apabila melakukan hubungan suami istri. Analisa data: No Data Etiologi Masalah 1. Ds: -Merasakan nyeri daerah perianal -sering terjadi perdarahan divagina Ds: -Terdapat massa didinding vagina -Terdapat pembesaran uterus -Terdapat perdarahan berlebihan pada vagina -Wajah tampak merasakan nyeri Defisiensi protein ↓ Stroma villus & edematus ↓ Villus membesar dg isi air bukan janin ↓ Sel-sel trofoblast berproliferasi tidak tentu ↓ Kadar HCG >normal

Pembesaran uterus & vagina

Nyeri di daerah perianal
Nyeri akut
2. Ds:
-Klien menyatakan nafsu makan menurun
-Klien merasa lemas
Do:
-Porsi makan klien habis setengah porsi
-Klien tampak lemah
-Kadar Hb, leukosit, trombosit, menurun
Peningkatan kadar β-HCG

Mual berlebihan

Nafsu makan menurun

Asupan nutrisi menurun
Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
3. Ds:
-Klien merasa gelisah
-Klien terus bertanya tentang penyakitnya
Do:
-Klien tampak pucat
-Klien tampak gelisah Proses penyakit

Terapi yg terus menerus

Ketidaktahuan klien tentang proses terapi

Kecemasan terhadap penyakitnya Ansietas
4. Ds:
-Pasien menanyakan kapan saja dia bisa melakukan hubungan seksual
-Pasien merasakan nyeri daerah perianal saat melakukan hubungan seksual
-Pasien menyatakan ketakutan keharmonisan rumah tangganya terganggu
Do:
-Pasien terus menyakan kapan saja bisa melakukan hubungan seksualitas
-Suami pasien terus menyakan tentang penyakit isterinya Perdarahan pervaginam

Ketidaktahuan tentang penyakitnya

Cemas dalam hal berhubungan seksual

Gangguan pola seksual Ketidak efektifan pola seksualitas

II. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul, antara lain :
1. Gangguan rasa nyaman: nyeri akut b.d perdarahan, proses penjalaran penyakit.
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d penurunan asupan oral, ketidaknyamanan mulut, mual sekunder akibat peningkatan
kadar ß-hCG.
3. Ansietas b.d ancaman intregritas biologis aktual atau yang dirasa
sekunder akibat penyakit.
4. Ketidakefektifan pola seksualitas b.d ketakutan terkaitan perdarahan
per vaginam penyakitnya.

III. Intervensi Keperawatan

1. Gangguan rasa nyaman : nyeri b.d perdarahan, proses penjalaran penyakit
Tujuan : Nyeri berkurang dalam waktu 1 x 24 jam
Kriteria Hasil :
• Klien mengekspresikan penurunan nyeri/ ketidaknyamanan
• Klien tampak rileks, dapat tidur dan istirahat dengan tepat.
Intervensi:
1. Beri informasi yang akurat untuk mengurangi rasa takut
2. Bicarakan alasan individu mengalami peningkatan atau penurunan nyeri (misalnya: keletihan/meningkat atau adanya distraksi/menurun)
3. Beri individu kesempatan untuk istirahat siang dan dengan waktu tidur yang tidak terganggu pada malam hari (Harus istirahat bila nyeri mereda)
4. Bicarakan dengan individu dan keluarga penggunaan terapi distraksi serta metode pereda nyeri lain.
5. Ajarkan tindakan pereda nyeri non invasif
a. Relaksasi
• Beri tahu teknik untuk menurunkan ketegangan otot rangka yang dapat menurunkan intensitas nyeri.
• Tingkatkan relaksasi pijat punggung, masase, atau mandi air hangat.
• Ajarkan strategi relaksasi khusus (misal : bernapas perlahan, teratur, atau nafas dalam, kepalkan tinju, menguap)
b. Stimulasi kutan
• Jelaskan manfaat terapeutik dari preparat mentol/pijat punggung
6. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgesik.
7. Pantau tanda-tanda vital klien
8. Pantau intensitas nyeri klien

2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d penurunan asupan oral, ketidaknyamanan mulut, mual akibat peningkatan kadar ß- hCG
Tujuan : Nutrisi klien terpenuhi dalam waktu 2x24 jam

Kriteria Hasil :
- Klien menyatakan nafsu makannya meningkat
- Klien terlihat tidak lemah
- Porsi makan klien habis

Intervensi :

1. Jelaskan alasan mengapa nafsu makan klien menurun akkibat kemoterapi
2. Jelaskan pentingnya nutrisi adekuat bagi proses penyembuhan penyakit
3. Beri dorongan klien agar meningkatkan selera makannya
4. Beri suasana makan yang rileks
5. Tawarkan makanan porsi kecil tapi sering untuk mengurangi perasaan tegang pada lambung
6. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk penetapan asupan nutrisi klien
7. Pantau kadar ß-hCG pasien secara berkala
8. Pantau porsi makan yang dihabiskan klien

3. Ansietas b.d ancaman intregritas biologis aktual atau yang dirasa sekunder akibat penyakit
Tujuan : Klien menyatakan dapat menerima penyakitnya dengan baik
Kriteria Hasil:
• Klien terlihat tidak cemas akibat penyakitnya
• Klien mampu menggunakan mekanisme koping yang efektif.
Intervensi:
1. Beri kenyamanan dan ketentraman hati.
2. Singkirkan stimulasi yang berlebihan.
3. Bila ansietas telah berkurang dan cukup untuk terjadi pemahaman, bantu klien mengenali ansietas untuk mulai memahami atau memecahkan masalah.
4. Gali intervensi yang menurunkan ansietas
5. Beri aktivitas yang dapat menurunkan tegangan.
6. Pantau keadaan umum klien

4. Ketidakefektifan pola seksualitas b.d ketakutan terkaitan perdarahan per vaginam penyakitnya.
Tujuan : Klien mengetahui kapan saja dia bisa melakukan hubungan seksual
Kriteria Hasil:
• Pola seksualitas klien normal
• Klien terlihat tidak cemas terhadap aktifitas seksualnya
• Klien mampu menggunakan mekanisme koping yang efektif.
Intervensi:
1. Identifikasi penyebab ketidakefektifan pola seksualitas
2. Kaji tingkat kecemasan klien
3. Jelaskan pada klien waktu untuk melakukan hubungan seksual sesuai
kondisinya
4. Beri edukasi tentang keadaan klien apabila berhubungan seksual
5. Tekankan bahwa penyakitnya tidak mempunyai dampak yang serius
pada fungsi seksualitasnya
6. Pantau keadaan umum klien


DAFTAR PUSTAKA
Broocker, Christine. 2001. Kamus Saku Keperawatan edisi 31.Jakarta: EGC.
Cunningham, MacDonald,Gant. Gestationnal Trofoblastic Tumors, Willm Obstetric
9th. 1990:746-50.
Coadjane, et al. 2006. Anatomi dan Fisiologi untuk Bidan. Jakarta: EGC.
Manjoer , Arif, et al .2002. Kapita Selekta Kedokteran edisi ketiga jilid 1. Jakarta:
Media Aesculapius.
Soekimin. 2005. Penyakit Trofoblas Ganas. Sumatera: Fakultas Kedokteran USU.
Wiknjosastro, Hanifa, et al,. 2005.Ilmu Kandungan edisi kedua. Jakarta: Yayasan
Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar