Senin, 13 Juni 2011

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN “HIPOPARATIROID’’

1. Pengertian
a. Hipoparatiroid adalah defisiensi kelenjar paratiroid dengan tetani sebagai gejala utama (Haznam).
b. Hipoparatiroid adalah hipofungsi kelenjar paratiroid sehingga tidak dapat mensekresi hormon paratiroid dalam jumlah yang cukup. (Guyton).
c. Hipoparatiroidisme adalah kondisi dimana tubuh tidak membuat cukup hormon paratiroid atau parathyroid hormone (PTH).
Dari pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa hipoparatiroid hipofungsi dari kelenjar paratiroid sehingga hormon paratiroid tidak dapat disekresi dalam jumlah yang cukup, dengan gejala utamanya yaitu tetani.

2. Etiologi
a. Hipoparatiroid primer: pada anak-anak dibawah umur 16 tahun, jarang sekali.
b. Hipoparatiroid sekunder:
• Terjadi setelah tindakan strumektomi karena kelenjar paratiroid ikut terekresi.
• Defisiensi sekresi hormon paratiroid, ada dua penyebab utama:
Ø Post operasi pengangkatan kelenjar partiroid dan total tiroidektomi.
Ø Idiopatik, penyakit ini jarang dan dapat kongenital atau didapat.
Ø Hipomagnesemia.
• Sekresi hormon paratiroid yang tidak aktif.
• Resistensi terhadap hormon paratiroid (pseudohipoparatiroidisme).





3. Patofisiologi
• Pada hipoparatiroidisme terdapat gangguan dari metabolisme kalsium dan fosfat, yakni kalsium serum menurun (bisa sampai 5 mgr%) dan fosfat serum meninggi (bisa sampai 9,5-12,5 mgr%).
• Pada yang post operasi disebabkan tidak adekuat produksi hormon paratiroid karena pengangkatan kelenjar paratiroid pada saat operasi. Operasi yang pertama adalah untuk mengatasi keadaan hiperparatiroid dengan mengangkat kelenjar paratiroid. Tujuannya adalah untuk mengatasi sekresi hormon paratiroid yang berlebihan, tetapi biasanya terlalu banyak jaringan yang diangkat. Operasi kedua berhubungan dengan operasi total tiroidektomi. Hal ini disebabkan karena letak anatomi kelenjar tiroid dan paratiroid yang dekat (diperdarahi oleh pembuluh darah yang sama) sehingga kelenjar paratiroid dapat terkena sayatan atau terangkat. Hal ini sangat jarang dan biasanya kurang dari 1 % pada operasi tiroid. Pada banyak pasien tidak adekuatnya produksi sekresi hormon paratiroid bersifat sementara sesudah operasi kelenjar tiroid atau kelenjar paratiroid, jadi diagnosis tidak dapat dibuat segera sesudah operasi.
• Pada pseudohipoparatiroidisme timbul gejala dan tanda hipoparatiroidisme tetapi kadar PTH dalam darah normal atau meningkat. Karena jaringan tidak berespons terhadap hormon, maka penyakit ini adalah penyakit reseptor. Terdapat dua bentuk: (1) pada bentuk yang lebih sering, terjadi pengurangan congenital aktivitas Gs sebesar 50 %, dan PTH tidak dapat meningkatkan secara normal konsentrasi AMP siklik, (2) pada bentuk yang lebih jarang, respons AMP siklik normal tetapi efek fosfaturik hormon terganggu.
4. Gejala Klinik
Gejala utama adalah reaksi neuromuskuler yang berlebihan yang disebabkan oleh kalsium serum yang rendah. Keluhan penderita ± 70 % adalah tetani.
a. Laten tetani: Mati rasa, tingling, kram pada tangan dan kaki.
b. Over tetani: bronchospasme, laringospasme, spasme carpopedal, dispagia, potophobia, cardiac disritmia.

c. Gejala lain:
1) Gangguan emosional: cemas, mudah marah, depresi .
2) Perubahan tropik pada ectoderm: rambut jarang dan cepat putih, kulit kering dan permukaan kasar, kuku tipis.
3) Pada keadaan tetanus laten terdapat gejala patirasa, kesemutan dan kram pada ekstremitas dengan keluhan perasaan kaku pada kedua belah tangan serta kaki. Pada keadaan tetanus yang nyata, tanda-tanda mencakup bronkospasme, spasme laring, spasme karpopedal (fleksi sendi siku serta pergelangan tangan dan ekstensi sensi karpofalangeal), disfagia, fotopobia, aritmia jantung serta kejang. Gejala lainnya mencakup ansietas, iritabilitas, depresi dan bahkan delirium. Perubahan pada EKG dan hipotensi dapat terjadi. (Brunner & Suddath, 2001)

5. Pemeriksaan Diagnostik
Tetanus laten ditunjukan oleh tanda trousseau atau tanda Chvostek yang positif. Tanda trousseau dianggap positif apabila terjadi spasme karpopedal yang ditimbulkan akibat penyumabtan aliran darah ke lengan selama 3 menit dengan manset tensimeter. Tanda Chvostek menujukkan hasil positif apabila pengetukan yang dilakukan secara tiba-tiba didaerah nervous fasialis tepat di kelenjar parotis dan disebelah anterior telinga menyebabkan spasme atau gerakan kedutan pada mulut, hidung dan mata.
Diagnosa sering sulit ditegakkan karena gejala yang tidak jelas seperti rasa nyeri dan pegal-pegal, oleh sebab itu pemeriksaan laboratorium akan membantu. Biasanya hasil laboratorium yang ditunjukkan, yaitu:
1. Kalsium serum rendah. Tetanus terjadi pada kadar kalsium serum yang berkisar dari 5-6 mg/dl (1,2 - 1,5mmol/L) atau lebih rendah lagi.
2. Fosfat anorganik dalam serum tinggi
3. Fosfatase alkali normal atau rendah
4. Foto Rontgen:
Ø Sering terdapat kalsifikasi yang bilateral pada ganglion basalis di tengkorak
Ø Kadang-kadang terdapat pula kalsifikasi di serebellum dan pleksus koroid
5. Density dari tulang bisa bertambah
6. EKG: biasanya QT-interval lebih panjang

6. Komplikasi
a. Hipokalsemia
Keadaan klinis yang disebabkan oleh kadar kalsium serum kurang dari 9 mg/100ml. Kedaan ini mungkin disebabkan oleh terangkatnya kelenjar paratiroid waktu pembedahan atau sebagai akibat destruksi autoimun dari kelenjar-kelenjar tersebut
b. Insufisiensi ginjal kronik
Pada keadaan ini kalsium serum rendah, fosfor serum sangat tinggi, karena retensi dari fosfor dan ureum kreatinin darah meninggi. Hal ini disebabkan tidak adanya kerja hormon paratiroid yang diakibatkan oleh keadaan seperti diatas (etiologi).

7. Penatalaksanaaan
a. Penatalaksanaan medis
1) Hipoparatiroid akut:
a) Koreksi kalsium secepatnya (calsium glukonas 10 cc IV atau perinfus), hati-hati karena bisa menyebabkan aritmia dari jantung.
b) Suntikan hormon paratiroid IM (100 – 200 U).
c) Pemberian vitamin D2 per oral (100.000 U)
2) Hipoparatiroid kronik
Maksudnya untuk meningkatkan kadar kalsium serum dan menurunkan kadar fosfor serum secara kontinue. Usaha yang dilakukan dengan kombinasi diet dan obat-obatan peroral.
a) Diet:
Diet yang banyak mengandung kalsium dan sedikit fosfor.
b) Medikamentosa:
(1) Untuk menyukarkan absorbsi fosfor dalam intestinum dapat digunakan alumunium hidroksida.
(2) Suntikan hormon paratiroid dalam jangka lama menyebabkan reaksi lokal dan pembentukan zat anti, oleh karena itu hormon paratiroid tidak digunakan untuk hipoparatiroid kronik.
(3) Vit D2 (ergocalsiferol) ditambah DHT3 (dihydrotachysterol) kebutuhan tubuh terhadap vitamin D ± 400 IU. Fungsi vitamin D:
(a) Menambah absorbsi kalsium dan fosfor di intestinum.
(b) Meningkatkan ekresi fosfor dan menurunkan fosfor serum.
(c) Efek langsung terhadap kalsifikasi.

b. Penatalaksanaan keperawatan
1) Istirahat
2) Observasi vital sign
3) Makanan cair/personde
4) Perhatikan saluran nafas
5) Penanganan kejang
6) Fisiotherapi






ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian
a. Pengumpulan Data
1) Identitas
a) Identitas klien
b) Identitas penanggung jawab
2) Riwayat kesehatan
a) Sejak kapan klien menderita penyakit
b) Apakah ada anggota keluarga yang berpenyakit sama
c) Apakah klien pernah mengalami tindakan oprasi khususnya pengangkatan kelenjar paratiroid atau kelenjar tiroid
d) Apakah ada riwayat penyinaran daerah leher.
3) Keluhan utama meliputi:
a) Kelainan bentuk tulang
b) Perdarahan yang sulit berhenti
c) Kejang-kejang, kesemutan dan lemah.
4) Pemeriksaan fisik
a) Sistem persarafan
(1) Parestesis: bibir, lidah, jari-jari, kaki.
(2) Kesemutan
(3) Tremor
(4) Hiperefleksia
(5) Tanda chvostek’s dan trousseau’s positif
(6) Papil edema
(7) Labilitas emosional
(8) Peka rangsang
(9) Ansietas
(10) Depresi
(11) Delirium
(12) Delusi
(13) Perubahan dalam tingkat kesadaran
(14) Tetani
(15) Kejang
b) Sistem muskuloskeletal
(1) Kekakuan
(2) Keletihan
c) Sistem cardiovaskuler
(1) Sianosis
(2) Palpitasi
(3) Disritmia jantung
d) Sistem pernafasan
(1) Suara serak
(2) Edema/stridor laring
e) Sistem gastrointestinal
(1) Mual muntah
(2) Nyeri abdomen
f) Sistem urinaria
Pembentukan kalkuli pada ginjal
g) Sistem integumen
(1) Distrofik, kering, kulit, dan kuku keras
(2) Figmentasi kutan
(3) Alopesia
(4) Tepi kuku horizontal
(5) Kuku rapuh
5) Pemeriksaan penunjang
a) Pemeriksaan laboratorium
b) Pemeriksaan radiologi
c) Pemeriksaan EKG



2. Diagnosa Keperawatan dan Intervensi
a. Potensial cedra berhubungan dengan resiko kejang atau tetani yang diakibatkan oleh hipokalsemia.
1) Tujuan:
Klien tidak mengalami cedra dengan kriteria: reflek normal, tanda vital stabil, makan diet dan obat seperti yang dianjurkan, kadar kalsium serum normal.
2) Intervensi:
Intervensi Rasional
a. Pantau tanda-tanda vital dan reflek tiap 2 jam sampai 4 jam.
b. Pantau fungsi jantung secara terus menerus/gambaran EKG.
c. Bila pasien dalam tirah baring berikan bantalan paga tempat tidur dan pertahakan tempat tidur dalam posisi rendah.
d. Bila aktivitas kejang terjadi ketika pasien bangun dari tempat tidur, bantu pasien untuk berjalan, singkirkan benda-benda yang membahayakan, bantu pasien dalam menangani kejang dan reorientasikan bila perlu.
e. Kolaborasi dengan dokter dalam menangani gejala dini dengan memberikan dan memantau efektifitas cairan parenteral dan kalsium.
f. Pemberian kalsium dengan hati-hati.
g. Berikan suplemen vitamin D dan kalsium sesuai program.
h. Kaji ulang pemeriksaan kadar kalsium. a. untuk mengetahui kelainan sedini mungkin.
b. Untuk mengetahui abnormalitas dari gambaran EKG.
c. Untuk mencegah terjadinya injuri/jatuh.
d. Untuk menghindari cedra yang terjadi akibat benda yang terdapat di lingkungan sekitar klien dan mencegah kerusakan lebih berat akibat kejang.
e. Antisifasi terhadap hipokalsemia dengan cara penanganan medis.
f. Pemberian kalsium yang terlalu cepat akan mengakibatkan tromboflebitis hipotensi.
g. Untuk membantu memenuhi kekurangan kalsium dalam tubuh.
h. Untuk mengontrol kadar kalsium serum.


b. Potensial tidak efektifnya jalan nafas berhubungan dengan oedema laring atau aktivitas kejang.
1) Tujuan:
Jalan nafas efektif dengan kriteria:
a) Frekwensi, irama, dan kedalaman pernafasan normal.
b) Auskultasi paru menunjukan bunyi yang bersih.
2) Intervensi:
Intervensi Rasional
a. Siapkan peralatan penghisap dan jalan nafas oral di dekat tempat tidur sepanjang waktu.
b. Siapkan tali tracheostomi, oksigen, dan peralatan resusitasi manual siap pakai sepanjang waktu.
Edema laring:
c. Kaji upaya pernafasan dan kualitas suara setiap 2 jam.
d. Auskultasi untuk mendengarkan stridor laring setiap 4 jam.
e. Laporkan gejala dini pada dokter dan kolaborasi untuk mempertahankan jalan nafas tetap terbuka.
f. Intruksikan pasien agar menginformasikan pada perawat atau dokter saat pertama terjadi tanda kekakuan pada tenggorok atau sesak nafas.
g. Baringkan pasien untuk mengoptimalkan bersihan jalan nafas, pertahankan kepala dalam posisi kepala dalam posisi alamiah, garis tengah.
Kejang:
h. Bila terjadi kejang: pertahankan jalan nafas, penghisapan orofaring sesuai indikasi, berikan O2 sesuai pesanan, pantau tensi, nadi, pernafasan dan tanda-tanda neurologis, periksa setelah terjadi kejang, catat frekwensi, waktu, tingkat kesadaran, bagian tubuh yang terlibat dan lamanya aktivitas kejang.
i. Siapkan untuk berkolaborasi dengan dokter dalam mengatasi status efileptikus misalnya: intubasi, pengobatan.
j. Lanjutkan perawatan untuk kejang. a. Supaya memudahkan karena serangan bisa secara tiba-tiba.
b. Untuk memudahkan dalam tindakan apabila terjadi sumbatan jalan nafas.
c. Untuk mengetahui suara dan keadaan jalan nafas.
d. Adanya stridor suatu tanda adanya oedema laring.
e. Kolaborasi dengan dokter untuk mempertahankan jalan nafas tetap terbuka karena perawat terbatas akan hak dan wewenang.
f. Agar perawat bisa siap-siap untuk melakukan suatu tindakan.
g. Untuk mencegah penekanan jalan nafas/mempertahankan jalan nafas untuk tetap terbuka.
h. Bila terjadi kejang otomatis O2 ke otak menurun sehingga bisa berakibat fatal ke seluruh jaringan tubuh termasuk pernafasan.
i. Kolaborasi dengan dokter dalam hal tindakan wewenang dokter (pengobatan dan tindakan).
j. Untuk mencegah terjadinya serangan berulang.


c. Intoleran aktivitas berhubungan dengan penurunan cardiak output.
1) Tujuan:
Kien dapat memenuhi kebutuhan aktivitas dengan kriteria:
a) Tingkat aktivitas meningkat tanpa dispnoe, tachicardi atau peningkatan tekanan darah.
b) Melakukan aktivitas tanpa bersusah payah.
2) Intervensi:
Intervensi Rasional
a. Kaji pola aktivitas yang lalu.
b. Kaji terhadap perubahan dalam gejala muskuloskeletal setiap 8 jam.
c. Kaji respon terhadap aktivitas: Catat perubahan tensi, nadi, pernafasan, hentikan aktivitas bila terjadi perubahan, tingkatkan keikutsertaan dalam kegiatan kecil sesuai dengan peningkatan toleransi, ajarkan pasien untuk memantau respon terhadap aktivitas dan untuk mengurangi, menghentikan atau meminta bantuan ketika terjadi perubahan.
d. Rencanakan perawatan bersama pasien untuk menentukan aktivitas yang ingin pasien selesaikan: Jadwalkan bantuan dengan orang lain.
e. Seimbangkan antara waktu aktivitas dengan waktu istirahat.
f. Simpan benda-benda dan barang lainnya dalam jangkauan yang mudah bagi pasien. a. Untuk membandingkan aktivitas sebelum sakit dan yang akan diharapkan setelah perawatan.
b. Untuk memantau keberhasilan perawatan.
c. Untuk melihat suatu perkembangan perawatan terhadap aktivitas secara bertahap.
d. Dengan merencanakan perawatan, perawat dengan klien dapat mempermudah suatu keberhasilan karena datangnya kemauan dari klien.
e. Untuk mengatasi kelelahan akibat latihan.
f. Untuk menghemat penggunaan energi klien.


d. Resti terhadap inefektif penatalaksanaan regimen therapetik berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang regimen diet dan medikasi.
1) Tujuan:
Klien mengerti tentang diet dan medikasinya, dengan kriteria:
Klien dan orang terdekat mengungkapkan pengertian tentang proses penyakit dan prinsip perawatan tindak lanjut dan perawatan di rumah serta pengobatan dan diet yang diperlukan.
2) Intervensi:
Intervensi Rasional
a. Jelaskan tentang konsep dasar tentang proses penyakit.
b. Diskusikan alasan tentang terjadinya perubahan fisik dan emosional.
c. Ajarkan pasien untuk memeriksakan dan melaporkan gejala dini tetani, kesemutan, tremor, tanda chvostek’s atau trusseaus positif perubahan dalam upaya pernafasan.
d. Ajarkan orang terdekat untuk mengenali aktivitas kejang pasien dan menentukan cara yang harus dilakukan menghindari restrain atau menghentikan prilaku, observasi dan mencatat prilaku yang diperlihatkan sebelum dan selama kejang.
e. Tekankan aktivitas sehari-hari dan latihan sesuai toeransi dan untuk melaporkan peningkatan keletihan atau kelemahan otot.
f. Diskusikan tentang pentingnya mempertahankan lingkungan yang aman.
g. Ajarkan nama obat-obatan, dosis, waktu dan metode pemberian, tujuan, efek smping dan toxik.
h. Ajarkan klien tentang diet tinggi kalsium rendah fosfat, seperti mengurangi susu dan keju karena banyak mengandung fosfor. a. Penyuluhan tentang penyakitnya sangat penting karena klien membutuhkan medikasi dan modifikasi diet sepanjang hidupnya.
b. Agar klien mengerti akan keadaan dirinya sehingga klien tahu tentang penanggulangannya.
c. Agar klien bisa mengontrolkan dirinya secara berkala sehingga penyakitnya bisa tertanggulangi dan tidak mengakibatkan lebih parah.
d. Orang terdekat adalah orang yang selalu berada dan tahu persis tentang pasien sehingga bila terjadi sesuatu terhadap diri klien dia bisa melakukan sesuatu dan apa yang tidak boleh dilakukan sehingga bisa memperingan penyakitnya.
e. Untuk melatih mobilisasi sehingga klien bisa melakukan ADLnya.
f. Untuk mencegah cedra akibat dari lingkungan.
g. Obat-obat tersebut penting untuk mempertahankan hidupnya.
h. Asupan diet yang seimbang akan meningkatkan kadar kalsium darah.


e. Resti terhadap inefektif penatalaksanaan regimen therapetik berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang regimen diet dan medikasi.
1) Tujuan:
Klien mengerti tentang diet dan medikasinya, dengan kriteria:
Klien dan orang terdekat mengungkapkan pengertian tentang proses penyakit dan prinsip perawatan tindak lanjut dan perawatan di rumah serta pengobatan dan diet yang diperlukan.
2) Intervensi:
Intervensi Rasional
a. Jelaskan tentang konsep dasar tentang proses penyakit.
b. Diskusikan alasan tentang terjadinya perubahan fisik dan emosional.
c. Ajarkan pasien untuk memeriksakan dan melaporkan gejala dini tetani, kesemutan, tremor, tanda chvostek’s atau trusseaus positif perubahan dalam upaya pernafasan.
d. Ajarkan orang terdekat untuk mengenali aktivitas kejang pasien dan menentukan cara yang harus dilakukan menghindari restrain atau menghentikan prilaku, observasi dan mencatat prilaku yang diperlihatkan sebelum dan selama kejang.
e. Tekankan aktivitas sehari-hari dan latihan sesuai toeransi dan untuk melaporkan peningkatan keletihan atau kelemahan otot.
f. Diskusikan tentang pentingnya mempertahankan lingkungan yang aman.
g. Ajarkan nama obat-obatan, dosis, waktu dan metode pemberian, tujuan, efek smping dan toxik.
h. Ajarkan klien tentang diet tinggi kalsium rendah fosfat, seperti mengurangi susu dan keju karena banyak mengandung fosfor. a.Penyuluhan tentang penyakitnya sangat penting karena klien membutuhkan medikasi dan modifikasi diet sepanjang hidupnya.
b.Agar klien mengerti akan keadaan dirinya sehingga klien tahu tentang penanggulangannya.
c.Agar klien bisa mengontrolkan dirinya secara berkala sehingga penyakitnya bisa tertanggulangi dan tidak mengakibatkan lebih parah.
d.Orang terdekat adalah orang yang selalu berada dan tahu persis tentang pasien sehingga bila terjadi sesuatu terhadap diri klien dia bisa melakukan sesuatu dan apa yang tidak boleh dilakukan sehingga bisa memperingan penyakitnya.
e.Untuk melatih mobilisasi sehingga klien bisa melakukan ADLnya.
f.Untuk mencegah cedra akibat dari lingkungan.
g.Obat-obat tersebut penting untuk mempertahankan hidupnya.
h.Asupan diet yang seimbang akan meningkatkan kadar kalsium darah.


DAFTAR PUSTAKA

Smeltzer, C . Suzanne,dkk.2002.Buku Ajar keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8 Vol 1. Jakarta: EGC
Hudak & Gallo.2001.Keperawatan Kritis, Edisi VI,Vol I, Jakarta: EGC
Doengoes,ME.2000.Asuhan Keperawatan Edisi 3.Jakarta: EGC

Tidak ada komentar:

Posting Komentar